TANYA JAWAB COVID-19


Orang dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yaitu demam 38O C atau lebih atau riwayat demam, disertai salah satu gejala/tanda penyakit pernapasan seperti batuk/sesak nafas/sakit tenggorokan/ pilek/pneumonia ringan hingga berat. Dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah yang melaporkan adanya penyebaran di wilayah setempat Orang dengan demam 38O C atau lebih atau punya riwayat demam atau ISPA dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi atau mungkin sudah potitif COVID-19 Orang dengan ISPA berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit dan tidak ada penyebab lain berdasarkan gejala klinis yang meyakinkan.
Orang yang mengalami demam 38O C atau lebih atau punya riwayat demam; atau gejala gangguan sistem pernapasan seperti pilek/sakit tenggorokan/batuk dan 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah yang melaporkan adanya penyebaran di wilayah setempat Orang yang mengalami gejala gangguan sistem pernapasan seperti pilek/sakit tenggorokan/batuk dan 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi atau mungkin sudah positif COVID-19
Orang yang tidak bergejala dan memiliki risiko tertular dari orang positif COVID-19. Orang tanpa gejala merupakan kontak erat dengan kasus positif COVID-19
Jika kita tidak melakukan cara pencegahan yang disarankan oleh pemerintah seperti menjaga jarak fisik dan tindakan pencegahan lainnya untuk memperlambat penyebaran SARS-CoV-2, virus dapat menginfeksi banyak orang dalam hitungan beberapa bulan. Ini akan membuat rumah sakit kita kewalahan dan menyebabkan tingkat kematian yang tinggi. Agar hal tersebut tidak terjadi, kita harus mempertahankan bahkan mengurangi tingkat infeksi yang terjadi saat ini sampai vaksin tersedia. Dibutuhkan upaya bersama dari seluruh masyarakat dengan terus melakukan cara pencegahan yang disarankan.
Berdasarkan perkiraan awal dari infeksi virus ini, kita akan membutuhkan setidaknya 70% populasi kebal untuk mendapatkan kekebalan kelompok. Jika dipilih cara “mendapatkan infeksi” untuk mencapai kekebalan kelompok, maka jumlah orang yang terinfeksi menjadi sangat banyak. Apalagi COVID-19 berisiko tinggi pada lansia dan orang yang memiliki sistem kekebalan yang lemah, serta tingkat kematian di Indonesia sekitar 6% ( Data Per 25 Mei 2020). Sangat tidak efektif bila kita memilih cara tersebut. Perlindungan dari vaksin merupakan cara yang efektif dalam mencapai kekebalan kelompok. Saat ini para ahli dan ilmuwan sedang bekerja keras untuk mengembangkan vaksin yang efektif. Oleh karena itu kita harus terus melakukan tindakan pencegahan penularan dari COVID-19 hingga vaksin yang sangat efektif telah dikembangkan, diuji, dan diproduksi secara massal.
Ada dua cara untuk mencapai kekebalan kelompok yaitu sebagian besar penduduk terinfeksi atau sebagian besar mendapatkan perlindungan dari vaksin. Pengalaman dari beberapa penyakit menular infeksi tanpa vaksin bukan cara yang efektif untuk mencapai kekebalan kelompok terutama pada penyakit yang menyebabkan keparahan dan kematian yang tinggi. Hal Ini disebabkan karena walaupun banyak orang dewasa telah mengembangkan kekebalan karena infeksi sebelumnya, penyakit ini masih dapat menyebar di kalangan anak-anak dan masih dapat menginfeksi mereka yang memiliki sistem kekebalan yang lemah. Selain itu, virus lain (seperti flu) bermutasi seiring waktu sehingga antibodi dari infeksi sebelumnya hanya memberikan perlindungan untuk jangka waktu yang singkat, tidak seumur hidup mereka. Perlindungan dari vaksin merupakan cara yang efektif untuk mencapai kekebalan kelompok. Contohnya adalah pada pengendalian penyakit gondongan, polio, dan cacar air yang merupakan penyakit menular yang dulunya sangat umum tetapi sekarang sudah jarang ditemukan di Indonesia, karena sebagian besar penduduk di Indonesia sudah mendapatkan perlindungan dari vaksin yang membantu membangun kekebalan kelompok. Seringkali terjadinya KLB penyakit menular (yang dapat dicegah dengan pemberian vaksin) ditemukan di kelompok masyarakat dengan cakupan imunisasi (pemberian vaksin) yang rendah sehingga mereka tidak memiliki kekebalan kelompok terhadap penyakit menular tersebut.
Herd immunity adalah ketika sebagian besar populasi kebal terhadap penyakit menular tertentu sehingga memberikan perlindungan tidak langsung atau kekebalan kelompok bagi mereka yang tidak kebal terhadap penyakit menular tersebut. Misalnya, jika 80% populasi kebal terhadap suatu virus, empat dari setiap lima orang yang bertemu seseorang dengan penyakit tersebut tidak akan sakit dan tidak akan menyebarkan virus tersebut lebih jauh. Dengan cara ini, penyebaran penyakit tersebut dapat dikendalikan. Bergantung pada seberapa menular suatu infeksi, biasanya 70% hingga 90% populasi membutuhkan kekebalan untuk mencapai kekebalan kelompok.
Pemakaian masker saat ini diwajibkan untuk semua orang, baik orang sehat maupun sakit. Orang sehat menggunakan masker kain saat hendak keluar rumah. Bagi orang yang memiliki gejala infeksi pernapasan (batuk atau bersin), dicurigai infeksi COVID-19 dengan gejala ringan, merawat orang yang bergejala seperti demam dan batuk, dan para petugas kesehatan menggunakan masker bedah. Selain menggunakan masker, cara yang efektif lainnya untuk melindungi diri dan orang lain dari penularan COVID-19 adalah mencuci tangan secara teratur, tutup mulut saat batuk dengan lipatan siku atau tisu, dan jaga jarak minimal satu meter dari orang yang bersin atau batuk.
Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan virus ini adalah: 1. Menjaga kesehatan dan kebugaran agar stamina tubuh tetap prima dan sistem imunitas / kekebalan tubuh meningkat. 2. Mencuci tangan dengan benar secara teratur menggunakan air dan sabun atau hand-rub berbasis alkohol. Mencuci tangan sampai bersih selain dapat membunuh virus yang mungkin ada di tangan kita, tindakan ini juga merupakan salah satu tindakan yang mudah dan murah. Sekitar 98% penyebaran penyakit bersumber dari tangan. Karena itu, menjaga kebersihan tangan adalah hal yang sangat penting. 3. Jaga jarak setidaknya 1 meter dengan orang lain. Jika anda terlalu dekat, anda dapat menghirup droplet dari orang yang mungkin menderita COVID-19. 4. Ketika batuk dan bersin, tutup hidung dan mulut Anda dengan tisu atau lengan atas bagian dalam (bukan dengan telapak tangan). 5. Hindari menyentuh mata, hidung dan mulut (segitiga wajah). Tangan menyentuh banyak hal yang dapat terkontaminasi virus. Jika kita menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang terkontaminasi, maka virus dapat dengan mudah masuk ke tubuh kita. 6. Gunakan masker dengan benar hingga menutupi mulut dan hidung ketika Anda sakit atau saat sedang keluar rumah. 7. Buang tisu dan masker yang sudah digunakan ke tempat sampah dengan benar, lalu cucilah tangan Anda. 8. Tetap dirumah, hindari kontak dengan orang lain dan bepergian ke tempat umum. 9. Hindari bepergian ke luar rumah saat Anda merasa kurang sehat, terutama jika Anda merasa demam, batuk dan sulit bernapas. Segera hubungi petugas kesehatan terdekat, dan mintalah bantuan mereka. Sampaikan pada petugas jika dalam 14 hari sebelumnya Anda pernah melakukan perjalanan terutama ke negara atau wilayah terjangkit, atau pernah kontak erat dengan orang yang memiliki gejala yang sama. Ikuti arahan dari petugas kesehatan setempat. 10. Menunda perjalanan ke wilayah/ negara dimana virus ini ditemukan. 11. Selalu pantau perkembangan penyakit COVID-19 dari sumber resmi dan akurat. Ikuti arahan dan informasi dari petugas kesehatan dan Dinas Kesehatan setempat. Informasi dari sumber yang tepat dapat membantu Anda melindungi dari Anda dari penularan dan penyebaran penyakit ini.
Waktu yang diperlukan sejak tertular/terinfeksi hingga muncul gejala disebut masa inkubasi. Saat ini masa inkubasi COVID-19 diperkirakan antara 1-14 hari, dan perkiraan ini dapat berubah sewaktu-waktu sesuai perkembangan kasus.
Orang yang terinfeksi COVID-19 dan influenza akan mengalami gejala infeksi saluran pernafasan yang sama, seperti demam, batuk dan pilek. Walaupun gejalanya sama, tapi penyebab virusnya berbeda-beda, sehingga kita sulit mengidentifikasi masing-masing penyakit tersebut. Pemeriksaan medis yang akurat disertai rujukan pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan untuk mengonfirmasi apakah seseorang terinfeksi COVID-19. Bagi setiap orang yang menderita demam, batuk, dan sulit bernapas sangat direkomendasikan untuk segera mencari pengobatan, dan memberitahukan petugas kesehatan jika mereka telah melakukan perjalanan dari wilayah terjangkit dalam 14 hari sebelum muncul gejala, atau jika mereka telah melakukan kontak erat dengan seseorang yang sedang menderita gejala infeksi saluran pernafasan.
Tidak, antibiotik hanya bekerja untuk melawan bakteri, bukan virus. Oleh karena COVID-19 disebabkan oleh virus, maka antibiotik tidak bisa digunakan sebagai sarana pencegahan atau pengobatan. Namun, jika Anda dirawat di rumah sakit dan didiagnosis COVID-19, Anda mungkin akan diberikan antibiotik, karena seringkali terjadi infeksi sekunder yang disebabkan bakteri.
Vaksin untuk mencegah infeksi COVID-19 sedang dalam tahap pengembangan/uji coba.
Sampai saat ini belum diketahui dengan pasti berapa lama COVID-19 mampu bertahan di permukaan suatu benda, meskipun studi awal menunjukkan bahwa COVID-19 dapat bertahan hingga beberapa jam, tergantung jenis permukaan, suhu, atau kelembaban lingkungan. Namun disinfektan sederhana dapat membunuh virus tersebut sehingga tidak mungkin menginfeksi orang lagi. Dan membiasakan cuci tangan dengan air dan sabun, atau hand-rub berbasis alkohol, serta hindari menyentuh mata, mulut atau hidung (segitiga wajah) lebih efektif melindungi diri Anda.
Cara penularan utama penyakit ini adalah melalui tetesan kecil (droplet) yang dikeluarkan pada saat seseorang batuk atau bersin. Saat ini WHO menilai bahwa risiko penularan dari seseorang yang tidak bergejala COVID-19 li sangat kecil kemungkinannya. Namun, banyak orang yang teridentifikasi COVID-19 hanya mengalami gejala ringan seperti batuk ringan, atau tidak mengeluh sakit, yang mungkin terjadi pada tahap awal penyakit. Sampai saat ini, para ahli masih terus melakukan penyelidikan tentang topik ini. Tetap pantau sumber informasi yang akurat dan resmi mengenai perkembangan penyakit ini.
Seseorang dapat terinfeksi dari penderita COVID-19. Penyakit ini dapat menyebar dari orang-orang melalui tetesan kecil (droplet) dari hidung atau mulut pada saat batuk, bersin, atau berbicara. Bisa juga seseorang terinfeksi COVID-19 ketika tanpa sengaja menghirup droplet dari penderita. Inilah sebabnya mengapa kita penting untuk menjaga jarak hingga kurang lebih satu meter dari orang lain. Droplet tersebut dapat juga jatuh pada benda di sekitarnya, kemudian jika ada orang lain menyentuh benda yang sudah terkontaminasi dengan droplet tersebut dan orang itu menyentuh mata, hidung atau mulut (segitiga wajah), maka orang itu dapat terinfeksi COVID-19. Inilah sebabnya mengapa kita penting untuk mencuci tangan secara teratur dengan sabun dan air mengalir atau membersihkannya dengan alkhohol. Sampai saat ini, para ahli masih terus melakukan penyelidikan untuk menentukan sumber virus, jenis paparan, dan cara penularannya. Tetap pantau sumber informasi yang akurat dan resmi mengenai perkembangan penyakit ini.
COVID-19 dapat menyebabkan gejala ringan hingga berat. Sekitar 80% kasus dengan gejala ringan (pilek, sakit tenggorokan, batuk, dan demam) dapat pulih tanpa perlu perawatan khusus. Namun, sekitar 1 dari setiap 5 orang mungkin akan menderita sakit yang parah, seperti disertai pneumonia atau kesulitan bernafas, yang biasanya muncul secara bertahap. Orang yang berusia lanjut, dan orang-orang dengan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya (seperti diabetes, tekanan darah tinggi dan penyakit jantung, paru-paru, atau kanker), mereka biasanya lebih rentan untuk menjadi sakit parah. Melihat perkembangan hingga saat ini, lebih dari 50% kasus konfirmasi telah dinyatakan membaik, dan angka kesembuhan akan terus meningkat.
Gejala umum berupa demam ≥380C, batuk kering, dan sesak napas. Jika ada orang yang dalam 14 hari sebelum muncul gejala tersebut pernah melakukan perjalanan ke negara atau wilayah terjangkit, atau pernah merawat/kontak erat dengan penderita COVID-19, maka terhadap orang tersebut akan dilakukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut untuk memastikan diagnosisnya.
COVID-19 disebabkan oleh SARS-COV2 yang termasuk dalam keluarga besar coronavirus yang sama dengan penyebab SARS pada tahun 2003, hanya berbeda jenis virusnya. Gejalanya mirip dengan SARS, namun angka kematian SARS (9,6%) lebih tinggi dibanding COVID-19 (kurang dari 5%), walaupun jumlah kasus COVID-19 jauh lebih banyak dibanding SARS. COVID-19 juga memiliki penyebaran yang lebih luas dan cepat ke beberapa negara dibanding SARS.
Coronavirus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Pada manusia biasanya menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan, mulai flu biasa hingga penyakit yang serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Sindrom Pernafasan Akut Berat/ Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus jenis baru yang ditemukan pada manusia sejak kejadian luar biasa muncul di Wuhan Cina, pada Desember 2019, kemudian diberi nama Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-COV2), dan menyebabkan penyakit Coronavirus Disease-2019 (COVID-19).
- Orang lanjut usia: orang dengan usia <60tahun ke atas biasanya memiliki kondisi kesehatan yang lebih rentan dengan berbagai macam penyakit, termasuk virus corona. - Wanita hamil: karena banyaknya perubahan yang terjadi di dalam tubuhnya, wanita hamil menjadi lebih beresiko terhadap paparan infeksi. - Orang dengan HIV: hal ini karena pada pasien HIV terjadi gangguan pada sistem kekebalan tubuh. - Orang dengan penyakit kronis: orang dengan penyakit kronis cenderung memiliki kekebalan tubuh yang rendah, seperti asma, penyakit jantung, penyakit paru, diabetes, hipertensi, dll.
- Orang yang kontak erat (kontak fisik/bertemu/berada dalam satu ruangan) dengan pasien dalam pengawasan atau pasien yang terkontaminasi covid-19 - Petugas kesehatan - Orang-orang yang bepergian dalam satu kendaraan - Orang yang berada dalam satu ruangan yang sama. (termasuk tempat kerja, kelas, rumah, atau acara besar) dengan pasien dalam pengawasan atau pasien yang terkontaminasi covid-19
Tidak. Saat ini semua orang dari seluruh kelompok usia dapat terinfeksi virus covid-19. Meskipun demikian pasien lansia dan yanh g sudah memiliki penyakit sebelumnya (seperti, asma, penyakit jantung, penyakit paru, diabetes, hipertensi, dll) cenderung lebih rentan mengalami keparahan akibat virus corona. WHO menyarankan agar setiap orang dari berbagai kelompok usia tetap melakukan pencegahan terhadap virus corona dengan menjaga kebersihan diri
Hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa hewan peliharaan seperti anjing ataupun kucing dapat menularkan virus covid-19. Namun tidak ada salahnya jika kita tetap mencuci tangam dengan sabun setelah bersentuhan atau melakukan kontak dengan hewan peliharaan, untuk menghindari penularan bakteri seperti E. Coli dan Salmonella
Bukti ilmiah saat ini menunjukkan bahwa virus covid-19 dapat ditularkan di berbagai wilayah, termasuk di wilayah dengan iklim panas dan lembab. Terus terapkan tindakan pencegahan terhadap virus covid-19 dimanapun anda menetap atau bepergian. Cuci tangan anda secara rutin dengan sabun dan hindari menyentuh bagian wajah terutama mata, hidung, dan mulut.
Aman. WHO menyatakan kemungkinan seseorang yang terinfeksi untuk mengkontaminasi brang/paket yang dikirimkan adalah rendah. Namun jika anda khawatir terjadi penularan, bersihkan permukaan barang dengan disinfektan dan cuci tangan.
Hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa virus covid-19 dapat ditularkan via udara. Virus covid-19 merupakan virus saluran pernafasan yang ditularkan melalui percikan saat seseorang yang terinfeksi batuk atau bersin, atau melalui percikan air ludah dan hidung. Oleh karenanya hindari interaksi dengan orang batuk/bersin. Dan seringlah mencuci tangan dengan sabun atau jika sedang tidak ada air bisa menggunakan hand sanitizer yang berbahan dasar alkohol 70%.